SEJARAH PERKEMBANGAN FENOMENOLOGI

Pengertian

Menurut the oxford english dictionary, yang dimaksud dengan fenomenologi adalah

-the science of phenomena as distict from being (ontology)

-division of any science which describes and classifies its phenomena

Jadi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena yang dibedakan dari sesuatu yang sudah menjadi, atau disiplin, atau disiplin ilmu yang menjelaskan dan mengklasifikasikan fenomena, atau studi tentang fenomena. Dengan kata lain, fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan bagaimana penampakannya.

Tujuan

Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas.

Sejarah fenomenologi

Ahli matematika Jerman Edmund Husserl, dalam tulisannya yang berjudul Logical Investigations (1900) mengawali sejarah fenomenologi. Fenomenologi sebagai salah satu cabang filsafat, pertama kali dikembangkan di universitas-universtas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl, yang kemudian di lanjutkan oleh Martin Heidehher dan yang lainnya, seperti Jean Paul Sartre. Selanjutnya Sartre, Heidegger, dan Merleau-Ponty memasukkan ide-ide dasar fenomenologi dalam pandangan eksistensialisme. Adapun yang menjadi fokus dari eksistensialisme adalah eksplorasi kehidupan dunia mahluk sadar, atau jalan kehidupan subjek-subjek sadar.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa fenomenologi tidak dikenal setidaknya sampai menjelang abad ke-20. Abad ke-18 menjadi awal digunakannya istilah fenomenologi sebagai nama teori tentang penampakan, yang menjadi dasar pengetahuan empiris (penampakan yang diterima secara inderawi). Istilah fenomenologi itu sendiri diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert, pengikut Christian Wolff. Sesudah itu, filosof Immanuel Kant mulai sesekali menggunakan istilah fenomenologi dalam tulisannya, seperti halnya Johann Gottlieb Fichte dan G.W.F.Hegel. Pada tahun 1889, Franz Brentano menggunakan fenomenologi untuk psikologi deskriptif. Dari sinilah awalnya Edmund Hesserl mengambil istilah fenomenologi untuk pemikirannya mengenai “kesengajaan”.

Tokoh-tokoh Fenomenologi

1. Edmund Husserl (1859-1938)

-Fenomenologi adalah ilmu yang fundamental dalam berfilsafat.

-Fenomenologi adalah ilmu tentang hakikat dan bersifat a priori.

-Bagi Husserl fenomena mencakup noumena (pengembangan dari pemikiran Kant).

-Kesadaran lebih bersifat terbuka.

-Pengamatan Husserl mengenai struktur intensionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yang inheren dalam kesadaran, yaitu (1) objektifikasi (2) identifikasi (3) korelasi (4) konstitusi.

-Fenomenologi Husserl pada prinsipnya bercorak idealistik, karena menyerukan untuk kembali kepada sumber asli pada diri subjek dan kesadaran. Konsepsi Husserl tentang “aku transedental” dipahami sebagai subjek absolut, yang seluruh aktivitasnya adalah menciptakan dunia.

Pokok-pokok pemikiran Husserl:

1.Fenomena adalah realitas sendiri yang tampak.

2.Tidak ada batas antara subjek dengan realitas

3.Kesadaran bersifat intensional.

4.Terdapat interaksi antara tindakan kesadaran (neosis) dengan objek yang disadari (neoma).

2. Martin Heidegger

-Konsep “destuksi fenomenologis”, menyerukan agar kembali pada realitas yang sesungguhnya atau “gejala pertama dan yang sebenarnya”.

-Cara kita terhubung dengan sesuatu itu, seperti palu yang memasukkan paku. Fenomenologi berfungsi sebagai alat pembuka berkenaan dengan situasi yang kita hadapi, tentu saja dalam konteks sosial.

-Fenomenologi didefinisikan sebagai pengetahuan dan keterampilan membiarkan sesuatu seperti apa adanya.

-Pemikirannya yang paling inovatif, adalah mencari “cara untuk menjadi” lebih penting ketimbang mempertanyakan apa yang ada di sekitar kita. Pemahaman mengenai “menjadi” didapatkan dengan fenomenologi.

3. Jean Paul Satre

-Kesadaran adalah kesadaran akan objek, hal ini sejalan dengan pemikiran Husserl. Dalam model kesengajaan versi Satre, pemain utama dari kesadaran adalah fenomena. Kejadian dalam fenomena adalah kesadaran dari objek. Sebatang pohon hanyalah satu fenomena dalam kesadaran, semua hal yang ada di dunia adalah fenomena, dan di balik sesuatu itu ada “sesuatu yang menjadi. Kesadaran adalah menyadari “sesuatu di balik demikian, “aku” bukanlah apa-apa, melainkan hanya sebuah bagian dari tindakan sadar, termasuk bebas untuk memilih.

-Metode dapat dilihat dari gaya penulisan dalam deskripsi interpretatif mengenai tipe-tipe pengalaman dalam situasi yang relevan.

4. Maurice Merleau Ponty

-Berfokus pada “body image”, yakni pengalaman akan tubuh kita sendiri dan bagaimana pengalaman itu berpengaruh pada aktivitas yang kita lakukan.

-Body image bukanlah bidang mental, juga bukan bidang fisik mekanis, melainkan sesuatu yang terikat tindakan, di mana ada penerimaan terhadap kehadiran orang lain di dalamnya. Ia membahas mengenai peranan perhatian dalam lapangan pengalaman, pengalaman tubuh, ruang dalam tubuh, gerakan tubuh, tubuh secara seksual, orang lain, dan karakteristik kebebasan.

5. Max Scheler (1874-1928)

-Menerapkan metode fenomenologi dalam penyelidikan hakikat teori pengenalan, etika, filsafat kebudayaan, keagamaan, dan nilai.

-Secara skematis, pandangan Scheler mengenai fenomenologi dibedakan ke dalam tiga bagian, yakni:

1.Penghayatan (erleben), atau pengalaman intuitif yang langsung menuju ke “yang diberikan”. Setiap manusia menghadapi sesuatu dengan aktif, bukan dalam bentuk penghayatan yang pasif.

2.Perhatian kepada “apanya” (washiet, whatness, esensi), dengan tidak memperhatikan segi eksistensi dari sesuatu. Hasserl menyebut hal ini dengan “reduksi transedental”.

3.Perhatian kepada hubungan satu sama lain (wesenszusammenhang) antar esensi. Hubungan ini bersifat a priori (diberikan) dalam institusi, sehingga terlepas dari kenyataan. Hubungan antar esensi ini dapat bersifat logis maupun non logis.

-Berdasarkan pemahaman fenomenologi-nya, Scheler menggolongkan nilai ke dalam empat kelompok, yaitu:

1.Nilai meterial, atau nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan. Misalnya kenikmatan yang bersifat lahiriah dan inderawi, seperti rasa enak, pahit, manis, dsb.

2.Nilai vital, atau nilai yang menyangkut kesehatan. Misalnya perasaan lelah, segar, stress, dsb.

3.Nilai rohani atau nilai estetis, seperti nilai benar dan salah. Nilai rohani ini biasanya berhubungan dengan pengetahuan murni atau pengetahuan yang dijalankan tanpa pamrih.

4.Nilai kudus atau nilai yang menyangkut objek-objek absolut yang terdapat dalam bidang religius. Misalnya nilai kitab suci, utusan Tuhan, dosa, dsb.

-Kemudian Scheler mengemukakan lima kriteria untuk menentukan hierarki dari nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah kriteria tersebut:

1.Berdasarkan lamanya nilai itu dirasakan. Nilai kebahagian dipandang lebih tinggi daripada nilai kenikmatan.

2.Berdasarkan dapat dibagi atau tidaknya suatu nilai. Misalnya barang seni akan dipandang lebih bernilai ketimbang makanan, karena barang seni tidak bisa dibagi-bagi.

3.Berdasarkan ketergantungannya pada nilai yang lain. Sesuatu akan kembali tinggi bila ia tidak bergantung pada yang lain.

4.Berdasarkan kepuasan yang ditimbulkannya.

5.Berdasarkan pengalaman organisme subjek.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s