Wisata Sejarah Cheng Ho, Sebuah Potensi yang Belum Digali

cengho

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa Laksamana Dinasti Ming, Cheng Ho (Zheng He) mengunjungi Melaka (Malaka) setidaknya lima kali selama tujuh kali pelayaran ke Samudra Barat (Asia Tenggara, Samudera Hindia, Timur Tengah dan Afrika). Beberapa orang mengklaim bahwa gudang Cheng Ho terletak di Bukit Tiongkok karena ada Sampo (atau San Bao mengacu Cheng Ho) dan daerah bernama Sampo Hill. Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Pelayaran Cheng Ho meliputi hampir setengah dari Benua di Dunia. Rekam jejaknya di Asean dijadikan daya tarik wisata heritage yang menarik wisatawan untuk berkunjung, khususnya mereka yang memiliki minat khusus. Di Singapura, wisata dengan tema Cheng Ho dikembangkan melalui cruise milik laksama Cheng Ho. Berbeda Singapura di Malaysia, wisata bertemakan Cheng Ho diimplikasikan dalam museum Budaya Cheng Ho yang berlokasi di Melaka Tengah. Sedangkan di Indonesia sendiri, wisata heritage bertemakan Cheng Ho cukup banyak, di mulai dari pulau Sumatera. Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke zaman kerajaan Samudera Pasai, peninggalan lonceng raksasa “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh. Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati Cirebon Jawa Barat, dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat suci Al-quran masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Di Semarang, salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu). Dan peninggalan laksamana Cheng Ho berupa Masjid terdapat di Surabaya, Pasuruan dan Palembang.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa peninggalan laksamana Cheng Ho yang berada di Indonesia jauh lebih banyak dan beragam, namun promosi secara nasional maupun internasional kurang. Untuk itu potensi wisata heritage bertemakan Laksamana Cheng Ho bisa dijadikan program strategi wisatawan mancanegara minat khusus bagi Indonesia.

About rimba ahmad

Public Relations with Tourism Planner attitudes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: