Pariwisata Halal Sebuah Trend dan Masa Depan

GlossaryCloud1-1024x768

Pasar dari Halal secara global berkembang secara exponen selama kurang dari setahun dengan produk makanan tersendiri, mendapatkan perolehan 632 milliar dollar secara penjualan, sama dengan 16% dari industri makanan secara global (Power,2009). Perpaduan dengan kepentingan memasangkan di bidang keuangan islam dan berbagai penawaran Islam lainnya di sektor permainan, hotel, fashion, asuransi, kosmetik, obat-obatan, dan hiburan, industri halal secara global diperkirakan akan tumbuh baik dengan jumlah 2.1 trilliun dollar per tahunnya (Temporal, 2011).

Definisi
Pariwisata halal merujuk pada penyediaan produk dan layanan pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, seperti memfasilitasi sarana ibadah dan kebutuhan makanan yang sesuai dengan syariat islam. Oleh karena itu, Pariwisata halal adalah jenis wisata yang mengikuti pada nilai-nilai islam, sebagai contoh pemikiran adalah pertumbuhan praktik bank dengan sistem islam yang konsisten dengan nilai-nilai dan praktik mereka, merupakan bagian ke dua dari keimanan, sehingga berhasil menjadi bagian dari cara kontemporer dunia. (Mohsin et al, 2015)
Bon and Hussain (2010) mengusulkan bahwa pariwisata halal adalah bagian dari pariwisata religi. Pariwista ini diikuti oleh mereka yang beragama Islam, wisatawan yang mengikuti pariwisata halal menjalani kehidupan perjalanan mereka di bawah naungan hukum syariat. Hukum syariat adalah cara untuk menjadi Halal. “Halal” adalah kata dari Bahasa Arab yang berarti, “pakaian” yang dipergunakan oleh seorang muslim karena hal tersebut berkaitan dengan bentuk-bentuk perilaku yang disetujui dan diizinkan. Dengan demikian, pariwisata halal pada dasarnya berkaitan dengan perjalanan atau tur bagi seorang muslim, yang dirancang untuk pertimbangan dan kebutuhan muslim, di mana wisatawan mematuhi hukum syariat yang difasilitasi oleh tuan rumah. (ibid)
Menurut Handerson (2015) definisi mengenai pariwisata halal atau pariwisata islam menjadi ambigu, seringkali digunakan secara bergantian, namun pada umumnya merupakan perjalanan yang dilakukan oleh seorang muslim yang berusaha untuk mengikuti prinsip-prinsip dan praktik keimanan ketika keluar dari rumah.
Pariwisata halal merupakan salah satu dari bentuk pariwisata kreatif, karena pariwisata halal memberikan sesuatu yang baru atau original pada sebuah perjalanan wisata (Tan et al, 2012). Konsep mengenai pariwisata kreatif ini telah dikembangkan selama beberapa tahun di banyak negara, seperti Selandia Baru, Austria, Spayol, Canada, Amerika dan Taiwan. Meskipun demikian, sejumlah tempat memiliki konsep mengenai pariwisata kreatif masing-masing, namun secara umum terdapat kesamaan konsep, seperti ‘partisipasi aktif’, ‘pengalaman yang asli’, ‘pengembangan potensi kreatif’, dan ‘pengembangan keterampilan’ (Richards, 2011).

Halallogo2

Pariwisata Halal di Asia
Direktur Biro Pariwisata Taiwan untuk Kuala Lumpur, Malaysia, David Tsao, mengatakan Taiwan gencar mempromosikan pariwisata ramah wisatawan Muslim melalui industri perhotelan dan restoran. Tujuannya untuk memberikan kenyamanan bagi umat Islam dan meningkatkan jumlah wisatawan. Pariwisata ramah wisatawan Muslim menjadi salah satu fokus perhatian dan pengembangan dalam negeri karena kurang lebih 1,4 miliar orang di dunia menganut agama Islam. Menurut dia, jumlah umat Islam yang begitu besar dapat menjadi sasaran pasar dalam industri pariwisata sehingga dapat meningkatkan perekonomian dalam negeri. (sumber:http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/03/24/o4jait394-taiwan-dorong-pariwisata-ramah-muslim-lewat-bisnis-hotel diakses 01/04/2016)
Fokus pariwisata halal yang ditawarkan Taiwan berupa hotel dan restoran. Hotel-hotel yang telah bersertifikat halal memiliki arah kiblat, tidak menjual minuman beralkohol, dan memisahkan kolam renang khusus laki-laki dan perempuan (tidak bercampur). Hal tersebut menjadi wajar karena mayoritas dari penduduk Taiwan tidak beragama islam. Sebagai contoh pariwisata halal dengan mayoritas penduduk tuan rumah di destinasi beragama islam adalah pariwisata halal yang berada di Indonesia.
Pariwisata Halal di Indonesia
Indonesia sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia mempunyai segmen pasar pariwisata halal tersendiri. Beberapa kota/kabupaten di Indonesia sudah menerapkan konsep mengenai pariwisata halal tersebut. Sebagai contoh yang paling dominan adalah NAD (Nangroe Aceh Darussalam) atau Aceh, adalah kota yang secara resmi mempunyai kebijakan daerah yang belandaskan Islam. Perempuan-perempuan Aceh diwajibkan untuk menggunakan hijab/kerudung ketika sudah berumur 17 tahun ke atas, tidak berduan (ikhtilat) bagi mereka yang belum sah menjadi suami istri/ bukan mahrom. Hukuman yang diterapkan pun tidak main-main, sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Bagi peminum khamr atau minum alkohol adalah dihukum cabuk dan disaksikan oleh semua orang. Aceh akan segera menjadi salah satu destinasi wisata halal di nusantara, serta menjadi destinasi wisata halal terbaik. Pada tahap pertama, pemerintah NAD Aceh melakukan sosialisasi mengenai restoran halal di seluruh Aceh.
Lain lagi dengan Kota Jakarta, Kota Metropolitan tersebut memiliki salah satu icon dari pariwisata halal, yaitu hotel. Hotel Sofyan Betawi mendapatkan penghargaan dalam kategori World Best Family Friendly Hotel pada ajang the World Halal Travel Awards 2015 di Emirates Palace, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Hotel ini menerapkan pelayanan sesuai syariat islam, seperti; 1) makanan, minuman, dan restoran harus bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), 2) melakukan seleksi terhadap tamu yang akan menginap, 3) setiap rest room atau kamar kecil disediakan air yang cukup untuk bersuci, baik untuk buang air besar dan kecil, hal tersebut terkadang jarang didapatkan di hotel dengan konsep konvesional. 4) ketersediaan air bilas pada toilet, tidak hanya tissu. 5) Mushola yang luas, serta arah kiblat disetiap kamarnya, 6) Sajadah dan Al-Qur’an pada setiap kamar.
Pulau Lombok merupakan destinasi tujuan yang selanjutnya memperoleh penghargaan dari ajang serupa. Kategori World Best Halal Tourism Destination dan World Best Honeymoon Destination dinobatkan untuk Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pulau dengan mayoritas penduduk beragama islam yang sama dengan NAD Aceh ini memiliki panorama alam yang indah. Hal tersebut yang memikat wisatawan muslim untuk berkunjung ke sana. Mayoritas hotel di Lombok sudah menerapkan konsel halal food, begitu juga dengan bandaranya.
Kedepannya pariwisata Indonesia akan lebih beragam karena pasar pariwisata akan menjadi pariwisata yang diunggulkan oleh Indonesia, pasar pariwisata halal hampir sama besar dengan jumlah wisatawan mancanegara dari Cina/Tiongkok, yang setiap tahunya berjumlah 100 juta orang, Menteri Pariwisata Arief Yahya atau biasa disapa Pak AY dalam statementnya di Republika menyebutkan “Halal tourism itu ada pasarnya, dan besar. Hampir sama dengan jumlah outbond Cina 100 juta orang setiap tahunnya,”. http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/16/03/04/o3ivll372-genjot-wisata-halal-aceh-gelar-international-rapai-festival diakses 07/04/2016)

References
Battour, M., & Ismail, M. N. (2015). Halal tourism: Concepts, practises, challenges and future. Tourism Management Perpectives, 5.
El Gohary, H. (2015). Halal tourism, is it really Halal? Tourism Management Perspectives, 7.
Henderson, J. C. (2015). Halal food, certifiation and halal tourism: Insights from Malaysia and Singapore. Tourism Management Perpectives, 5.
Mohsin, A., Ramli, N., & Alkhulayfi, B. A. (2015). Halal tourism: Emerging opportunities. Tourism Management Perpectives, 7.
Razzaq, S., Hall, C. M., & Prayag, G. (2016). The capacity of New Zealand to accommodate the halal tourism market – Or not. Tourism Management Perpectives, 18.
Samori, Z., Salleh, N. Z., & Khalid, M. M. (2015). Current trends on Halal tourism: Cases on selected Asian countries. Tourism Management Perpectives, 6.
Tan, S.-K., Kung, S.-F., & Luh, D.-B. (2012). A Model of ‘Creative Experience’ in Creative Tourism. Annals of Tourism Research, 153-174.
Tan, S.-K., Luh, D.-B., & Kung, S.-F. (2014). A taxonomy of creative tourists in creative tourism. Tourism Management, 248-259.
Yunos, R. M., Mahmood, C. F., & Mansor, N. H. (2014). Understanding Mechanism to Promote Halal Industry – The Stakeholders’ Views. Social and Behavioral Sciences, 160-166.

Sumber Lainnya:
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/03/24/o4jait394-taiwan-dorong-pariwisata-ramah-muslim-lewat-bisnis-hotel
http://www.icmi.or.id/blog/2015/10/terapkan-syariah-hotel-sofyan-jadi-hotel-halal-terbaik-sedunia
http://aceh.tribunnews.com/2016/03/24/aceh-segara-jadi-destinasi-wisata-halal

About rimba ahmad

Public Relations with Tourism Planner attitudes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: